Koro Komoditi Lokal Berpotensi Global

  • PDF
  • Print
  • E-mail

 

 

Bagi kebanyakan orang koro dikenal sebagai benguk, memang benar. Benguk dalam bahasa latinnya (Mucuna pruriens) merupakan salah satu varietas koro atau kacang-kacangan lokal yang banyak dibudidayakan petani . Beberapa spesies koro benguk yang banyak dikenal adalah benguk ompleh, benguk tahun, benguk rase dan benguk rawe yang bulunya bila mengenai kulit menjadi gatal-gatal.

Tanaman koro bukan jenis hibrida, benihnya dapat dikelola petani tanpa ada perlakuan khusus. Bagi masyarakat di wilayah Wonogiri barter benih biasa dilakukan dalam budidaya koro, jenis tanaman ini cukup adaptif dilahan kering dan tahan terhadap kekurangan air. Koro banyak ditanam di lahan pekarangan, tegalan dan gunung diantara bebatuan kapur. Ada beragam varietas dan spesies koro di budidayakan petani, ada jenis tanaman koro yang tumbuhnya tegak seperti koro pedang / koro begog / koro gleyor (Cannavalia ensiformis) dan Gude (Cajanus cajan. Millspaugh). Jenis tanaman koro yang lain kebayakan tumbuhnya menjalar seperti : koro glinding (Phaseolus lunatus), Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L) DC.), koro gajih (Dolichos lablab), Koro legi, koro kerupuk, dll.

Di wilayah Giritontro,Giriwoyo dan Batuwarno, tanaman koro banyak ditemui di tegalan dan gunung-gunung. Pada musim penghujan biji koro ditanam di sela-sela pepohonan yang sudah ada kemudian dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.Pada fase pertumbuhan tanaman koro akan menjalar, bila tidak ada perawatan dengan “lanjaran” tanaman koro akan mencari tanaman lain untuk penyangganya. Jenis koro yang ditanam cukup beragam, ada koro benguk, kecipir, koro glinding, koro legi, koro krupuk juga gude. Koro dapat dipanen secara bertahap, hasil panenan berupa polong muda, biji muda dan biji tua/kering. Pemasaran koro cukup mudah, biasa dijual ke warung, diambil pedagang sayuran, pedagang literan atau pengepul desa. Hasil panen koro cukup menjanjikan, bila dalam budidaya dikelola lebih baik hasilnya bisa meningkatkan pendapatan petani.


Koro sebagai kacang-kacangan local berkontribusi pada diversifikasi pangan. Mengingat produksi kedelai nasional belum bisa mencukupi kebutuhan pangan, maka diversifikasi kacang lokal memberikan alternative bagi masyarakat untuk memilih komoditi local yang nilai gizi dan cita rasanya tidak kalah dengan kedelai. Sampai saat ini kedelai masih menjadi nomor satu sebagai bahan pangan dan sumber protein nabati yang dikonsumsi masyarakat. Kedelai sebagian besar digunakan dalam industri tahu, tempe, kecap, susu kedelai juga aneka makanan ringan. Gizi yang ada dalam makanan olahan kedelai tidak hanya protein saja tapi juga mengandung vitamin, mineral dan karbohidrat. Kandungan gizi dari kedele mampu bersaing dengan bahan pangan hewani. Hasil olahan kedelai menjadi pilihan karena harganya relative murah dan bisa terjangkau masyarakat. Selain protein dan karbohidrat , kandungan serat kacang-kacangan cukup tinggi sehingga dapat mencegah penyakit termasuk mencegah timbulnya kangker.

Menurut Sutrisno Kusworo (dalam makalah “Kacang-kacangan, Sumber Serat Yang Kaya Gizi”), kacang-kacangan memberikan sekitar 135 kkal per 100 gram bagian yang dapat dimakan. Jika kita mengkonsumsi kacang-kacangan sebanyak 100 gram (1 ons), maka jumlah itu akan mencukupi sekitar 20 % kebutuhan protein dan 20 persen kebutuhan serat per hari. Menurut ketentuan pelabelan internasional, jika suatu bahan/produk pangan dapat menyumbangkan lebih dari 20 % dari kebutuhan suatu zat gizi per hari, maka dapat dinyatakan sebagai bahan atau produk pangan yang tinggi (high) akan zat gizi tersebut.

Upaya meningkatkan potensi kacang-kacangan local cukup rasional dilakukan mengingat beragam jenis kacang-kacangan dapat tumbuh di berbagai lahan pertanian, baik di lahan basah lahan kering juga di dataran tinggi basah dan kering. Jenis koro-koroan banyak ditanam di lahan kering tegalan dan gunung, tanaman koro cukup toleran terhadap kekurangan air. Untuk mencapai produktivitas tinggi tanaman koro harus ada perawatan khusus yaitu pemanfaatan lanjaran untuk penompang pertumbuhannya. Dengan pertumbuhan yang baik secara optimal dapat mendukung proses fotosintesis dan produksi polong. Di tengah melambungnya harga kedelai, kacang koro mampu menjadi bahan alternative untuk di buat tempe seperti tempe benguk, tempe begog, keripik tempe benguk, koro rebus, koro goreng, serta aneka sayuran dari polong muda. Dilihat kapasitas produksinya kacang koro cukup tinggi karena bisa dipanen muda sampai tua sehingga produktifitasnya dapat bersaing dengan kacang kedelai. Untuk produk olahan dari koro perlu ada pengembangan tehnologi, keragaman bentuk, rasa dan tampilannya, sehingga bisa menarik selera masyarakat secara umum untuk mengkonsumsinya.

Pengalaman dari ibu Suyati Suwanto pemilik pabrik abon di Salatiga (http://www.trubus-online.co.id) jenis koro pedang (Canavalia ensiformis) cukup bagus digunakan sebagai campuran pada pembuatan abon daging sapi. Penggunaan koro pedang pada abon sapi untuk menekan harga sehingga dapat terjangkau oleh kebanyakan konsumen. Untuk campuran abon, koro pedang dipilih karena harganya relative murah (dibanding kacang tanah) , resep yang digunakan untuk 3 kg daging sapi dicampur 15 kg koro pedang. Campuran koro pedang dapat menambah rasa gurih dan abon menjadi lebih mengembang. Sebelum jadi bahan campuran abon, ada perlakuan khusus untuk menghilangkan kadar asam sianida (HCN) dari koro pedang yaitu dengan proses perendaman,pencucian dan perebusan. Untuk perendaman bisa dilakukan beberapa hari dengan menggantikan airnya. Setelah perendaman koro pedang langsung direbus hingga matang, diiris tipis-tipis siap jadi campuran abon.

Budidaya koro cukup mudah dilakukan, hasil panenan bisa memberi tambahan gizi pada makanan keluarga dan sisa hasil panenan digunakan sebagai kompos untuk menambah unsur hara tanah. Meskipun tanaman kacang-kacangan punya beberapa kelebihan nilai gizi, menurut Winda Haliza, dkk (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor) koro juga mengandung senyawa anti gizi seperti trypsin inhibitor, asam fitat dan tannin. Senyawa anti gizi dapat dilihat dari warna kulit biji yang lebih gelap. Trypsin inhibitor dapat menurunkan ketersediaan protein pada sistem pencernaan, sedangkan asam fitat berikatan dengan mineral penting dan protein membentuk senyawa kompleks. Akibatnya kemampuan menyerap mineral menurun. Tanin membentuk senyawa kompleks dengan protein dan karbohidrat.

Bagi masyarakat senyawa anti gizi dipahami dengan rasa pahit yang terkandung dalam koro. Untuk dikonsumsi koro harus melalui perlakuan dengan proses perendaman dan pencucian berulang kali, selain itu bisa dilakukan melalui fermentasi koro untuk produk tempe, kecap, dll.

Koro cukup potensial dikembangkan mengingat sumber gizi yang ada dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Ada berbagai zat-zat atau senyawa kimia, anti oksidan dalam koro yang bisa digunakan dalam industri farmasi. Disamping untuk mendukung kesehatan, secara ekologi tanaman koro juga berguna dalam konservasi lahan. Sebagai jenis tanaman “leguminose” perakarannya dapat mengikat unsur nitrogen dari udara sehingga dapat memperbaiki tingkat kesuburan tanah. (Sulistiyani - GP)